TERJEMAHAN SERAT ERANG ERANG

TERJEMAHAN SERAT ERANG ERANG

Oleh : Dhidhik Setiabudi


BUKU NASIHAT

Orang yang menpunyai kesenangan madat, dapat dikatakan: tidak ada yang dijumpai baik, orang yang baik hatinya berubah menjadi jelek, oarng yang setia akan menjadi jahat, orang kaya akan menjadi melarat, kecintaan terhadap anak istri akan menjadi berkurang, dan kadang-kadang akan hilang sama sekali.

Meskipun kesenangan madat itu akan membuat sengsaranya badan, memusatkan minatnya hingga sampai meninggal, hal ini tentu mustahil akan dapat menjumpai kemuliaan, apakah tidak lebih baik kesengsaraan itu dijauhi, dan yang sudah terlanjur madat segeralah mundur, sebab yang saya lihat hanyalah bangsa Cina yang sudah kaya-kaya yang mempunyai kesenangan madat: selamatlah, sebab walaupun dicari, bangsa Jawa baru pada permulaan, danbelum dijumpai orang yang senang madat mendapat keuntungan dapat hdup enak, yang pasti dijumpai sejumlah orang jawa yang hidup menderita, sengsara, dan lagi terkapar karena kesenangan tadi. Semoga bangsaku orang-orang jawa semua kuat hatinya, dan mau menjauhi semua bahaya yang mudah disingkirkan karena belum terlanjur,dan ii kesenangan dunia masih banyak yang lain selain madat, sekarang saya buatkan cerita perjalanannya orang yang mempunyai kesenangan madat, jadi bukan dongeng atau karangan, tetapi benar-benar ceritera, semua menderita sengsara karena mempunyai kesenangan madat, seperti dibawah ini:

  1. TANDAK PEMINUM MADAT

Tandak kebanyakan berasal dari anak orang miskin, bila sampai terkenal, maka tidak lama kemudian dapat menjadi orang kaya,sebenarnya mereka ingat akan asalnya tadi, hemat akan kekayaannya, makannya dihemat, agar kekayaannya dapat abadi selama-lamanya hingga sampai meninggal, akan tetapi hal itu tidak demikian, sifatnya senang menghambur-hamburkan uang, sebab mudah mendapatkanya, meskipun dihambur-hamburkan, kalau dirinya msih terkenal, menjadi buah pembicaraan orang senegeri, terkenal diluar kota, kalau disewa untuk menari mendapatkan uang tambahan semalam seratus rupiah, kalau disewa untuk menari di daerah Cina hanya sampai pukul dua, dan mendapat uang dua puluh lima rupiah, kalu siang limabelas rupiah, disewa menarihingga delapan hari delapan malam = 40 x 8 =320 rupiah, kalu disewa menari didaerah pesisir jarang mendapatkan sekian, oleh karena tandak cepat terkenal karena kelihatan kaya, tetapi ada amanya sebab yang mendekati hanyalah pedagang kain.

Sekali, tandak kalu habis disewa menari, capainya setengah mati, tidak puas kalau hanya dipijat saja, yang dapat memulihkan kecapaiannya dengan cepat adalah dengan meminum madat, makin banyak makin enak, karena tidak kekurangan uang, maka membelinya obat capai (candu) juga banyak, dan dibagi-bagikan kepada yang minum madat, tak lama kemudian dirinya juga sudah tergigit minum madat, demikianlah asal mula penyakit mulai mendekatinya, suaranya menjadi parau tidak lantang lagi, panjang pendeknya suara berkurang karena nafasnya menjadi pendek, kecantikanya hilang, kelihatan kalau wanita peminum madat, akhirnya berkurang parasnya, ditambah lagi kekayaanya akan cepat hilang seperti disapu bersih, kemudian menjadi orang hina dina, menderita sengsara, meninggal menjadi tanggungan Negara.

Kedua kalau jatuh sakit sangat menakutkan sebab memang itu sudah menjadi kewajibanya orang royal, harta bendanya akan cepat habis untuk ongkos kedukun, dan hanya untuk minum madat, hal itulah yang membuat cepat menjadi celaka, dan meninggalnya tidak memakai kain kafan.

  1. ANAK NAKAL PEMINUM MADAT

Orang yang sudah terlanjur mempunyai kesenangan minum madat sudah pasti tidak dapat melepaskanya, mengurangi jatah makan juga tidak dapat. Dapat melakukanya kalau terpaksa, akan tetapi badanya akan merasa sakit, tidak banyak bicaranya, seperti seorang pendiam, berbeda kalu jatah makanya dicukupi, kemudian senang berkata-kata, pembicaraanya bermacam-macamtiada henti-hentinya, sambil membelai-belai kedudan (alat untuk minum madat), jadi orang yang dapat melepaskanminum madat itu adalah bohong.

Ada anak seorang menteri yang nakal, dan termasuk orang yang senang minum madat. Ayahnya sudah tidak mampu lagi untuk mengingatkan kelakuan jelek anaknya itu, kemudian ia dikucilkan dengan disaksikan oleh pemerintah, dan tidak diakui sebagai anaknya, akan tetapi rusaknya semakin menjadi-jadi dan ia sampai mengemis, akhirnya ayahnya meninggal. Anaknya hanya dua orang laki-laki dan perempuan yang satu ayah ibu, ibunya menasehati:

Nak, sepeninggal ayahmu, seluruh harta benda ini menjadi miliku, kau dan adikmu, lagi pula apakah kau tidak berkeinginan untuk  menggantikan keperyayiaan ayahmu? Maksudku kau mulai sekarang mengabdilah, akan tetapi mulai sekarang kau harus menghindarkan dari minum madat, sebab hal itu mrnjadi larangan Negara, semua abdi dalem tidak boleh minum madat.

Saya ini dari dulu dan sekarang, hanya menurut saja untuk melepaskan itu.

Mengapa tidak segera kau lakukan?

Sebab almarhum ayah keterlaluan membatasi makan saya, seperti orang yang dianiaya saja.

Ayahmu, jangan kau bicarakan jelek, sebab kemauanya baik, kau saja yang tidak dapat mengerti, man ada ayah yang benci terhadap anak? Sekarang hentikanlah pikiranmu yang sesat itu, dan hentiknlah olehmu meminum madat yang dapat menimbulkan pemikiran yang tidak benar.

Baiklah, saya akan mengikuti kehendak ibu untuk mengabdi  di pemerintah, akan tetapi seluruh pakaian ayah saya minta semuanya, sebab mengabdi kalau tidak mentereng, saya malu.

Ya saya turuti asalkan benar perkataanmu, tetapi hentikanlah dahulu olehmu meminum madat.

Maka dari itu sekarang ibu memberi saya uang duapuluh lima rupiah untuk membeli obat ke tabib, dan sekarang juga saya minta pakaian ayah, sebab besok pagi-pagi saya sudah mulai akan menghadap.

Apakah kau tidak merasa ketagihan ditempat menghadap kalau kau menghentikanya belum lama ini?

Saya tadi sudah mengatakan minta uang untuk membeli obat duapuluh lima rupiah, kalu kemasukan obat mujarab itu, saya sanggup tidak akan minum madat lagi, dan bila kemasukan candu maka akan muntah.

E, eh, sekejap benar pengobatanya, kalau dahulu kau berkata kepadaku saja, pasti akan saya beri dan tidak ketahuan ayahmu. Ini terimalah, saya beri uang duapuluh lima rupiah dam pakaian ayahmu pakailah semua, besok mulailah kau menghadap.

Akan mustahil kalu secara tiba-tiba, kan harus berobat dahulu dan dibiarkan selama delapan hari sehingga tidak akan tersa sakit badanya.

Yah terserahlah kan tetapi cepat kau lakukan.

Anak nakal itu berkata dalam hatinya: orang mengabdi itu jam delapan sudah menghadap, dan pulangnya jam dua, tidak mendapat bayaran tetapi hanya berangin-angin saja, hal demikian dapat dikatakan oaing yang menganiaya dirinya sendiri, apakah di dunia ini hanya orang yang mengabdi saja yang hidupnya enak?, tambahan pula yang sudah menjadi priyayi sekalipun banyak yang melarat hidupnya, jadi yang dapat disebut enak itu hanyalah orang yang minum madat, yang kecukupan, senang berlama-lama ditempat tidur, kalu sudah mabuk rasanya seperti diayun-ayun, di dunia ini tidak ada kenikmatan seperti yang dialami peminum madat. Kalu sudah mabuk rasa hatinya seperti menelen dunia (salah menelan asap), maksudku hanyalah asal saya dapat mem,bohongi ibu, mengenai warisan ayang yang telah tiada, semuanya dapat jatuh ketangan anak, dan anak bapak kan hanya dua, aku dan yang satu perempuan, hal itu mudah, mudah untuk dibohongi, apa yang kukatakan pasti dia menurut.

Anak nakal itu bercerita kepadaa ibunya kalau dirinya sudah mulai mengabdi. Tetapi sebenarnay ioa hanya berkeliling-keliling saja, seetelah capai pulang dan minum madat, pakaianya mentereng, setiap hari diberi uang saku setengah, akan tetapi selalu kurang, sebab jatahnya minum madat tidak boleh kurang dari satu setengah rupiah sehari. Oleh karena warisan ayah ibunya hanya untuk dimakan saja, dan ditambah lagi sedikit demi sedikit oleh anak nakal, yang kebanyakan dipakai untuk minum madat, maka akan cepat habis.

Kira-kira sudah setahun kedudukan ayahnya digantikan oleh orang lain, dan ketika ibunya mendengar, ia menjadi sedih, dan badanya semakin lama semakin kurus, hingga akhirnya meninggal. Anak nakal itu ketika kematian ibunya tidak prihatin, malahan senag hatinya, sebab apa yang menjadi keinginannya dapat terpenuhi. Adiknya masih kecil, tentu tidak dapat menahan kemauanya. Warisan ayah ibunya habis untuk minum madat. Rumahnya dijual, dan tidak lama kemudian uang penjualan rumah juga habis. Akhirnya anak nakal itu tertangkap karena mencuri, dan dihukum empat tahun, meninggal dipenjara.

  1. PANEKET DAN MAKELAR PEMINUM MADAT

Paneket (sedang minum madat didalam), “mari kak silahkan terus saja dekat saya di sini.”

Makelar menjawab, “baik.”

“Kak, tadi dari mana saja?”

“dari rumah saja.”

“Apakah sudah mendapat pandangan apa-apa yang patut mengenai kuda yang baik?”

“kedatangan saya ini juga akanmengatakan pesanan anda, kuda sudah saya peroleh, akan tetapi masih saya rahasiakan, yang memiliki Cina di Ngepakan (tempat pembungkusan candu) Tinem 1) dan bulunya berwarna merah kehitam-hitaman juga masih satu sisi, cirinya satria pinayungan, saya sebut dengan suduk (tikam), hal ini tidak baik, sebab sering membuat celaka pemiliknya, kalu ada yang ingin membelinya, lebih baik dijual saja.”

“Silahkan minum madat dahulu, nanti anda lanjutkan lagi.”

“Wah, candunya tebal benar kak neket, sepertinya campuran sendiri saja.”

Benar, memang campuran sendiri, apakah anda cocok atau tidak?, kalau tidak saya buatkan saja yang tipis.”

“Ah, saya sebut tebal karena sangat cocok.”

“ketika anda menyuruhmenjual kudanya, bagaimana reaksi tuan itu?”

“Kelihatannya kecewa benar, sebab sedang gemar-gemarnya, tumpangannya sangat enak dan bagus bibirnya. Kekecewaan saya ada cacatnya yang jelek. Baru satu untai saya sudah merasa, tebal benar kak neket.”

“Saya juga sudah merasa, apalagi itu buka candu Ngepakan, candu gelap yang saya beli daei krideh dan masih berwujud apium. Saya kentalkan sedikit-demi sedikit, maknya enak. Karena masakan sendiri, maka nanti anda teruskan lagi, sebab yang lain masih banyak.”

“Mas neket dapatkah membelikan sedikit?, nanti saya minta seharga satu rupiah saja.”

“Hal yang mudah tentang apiumseharga satu rupiah itu, sekarang anda daptkan kudanya dahulu.”

“Jangan terburu-buru sebab kalu cina itu mendengar anda yang akan membelinya, pasti ia akan menakikan harganya, tahu kalau anda kaya.”

“Kuda itu kalau diperjual belikan ditaksir dengan harga berapa?”

“Kalau dilihat dari cirinya yang baik, dua ratus itu tidak dapat ditawar lagi.”

“Sudahlah, anda sempatkan saja pergi kesana sebentar, bagaimana keteranganya nanti.”

“Ya, saya akan pergi ke desa Jatinem sebentar, permisi tuan,”

“Md. K. Keturunan Cina, silahkan kalau anda mau lalu.”

“Baiklah.”

“Engkau tadi dari mana saja kok siang-siang?”

“Dari rumah saja, pagi-pagi minum madat dahulu, kalau sudah puas baru berjalan-jalan.”

“Sebenarnya anda akan saya pesankan, akan tetapi kebetulan anda dating sendiri.”

“Anda pesankan ada pekerjaan apa?”

“Anu, kuda saya yang kau sebut berciri suduk, hati saya kok agak khawatir, sebab saya ini sering ke Klathen menaiki kuda mengirim uang penjualan candu ke Ngepakan. Nanti di jalan dihadang oleh orang jahat, dan ditikam, karena tertarik oleh cirinya kuda suduk, itu yang saya takuti.”

“Tidak dapat: jelas, hamper dapat dipastikan akan menemui bahaya, bila tidak ditikam, juga akan ditombak orang, jadi jarang orang yang mau membelinya. Walaupun demikian luasanya dunia ini, tidak ada barang yang tidak laku dijual, tetapi juga harus menderita rugi sedikit.”

“Kalau rugi saya tidak senang, sekarang saya terus terang saja, pembelian saya bersih seratus duapuluh rupiah, termuat dalam kwitansi.

“Akan saya bawakan kudanya sekarang, tetapi harus bermalam sehari ditempat orang yang membelinya, agar diuji batuknya, kalu tidak ya harus dibeli.”

“Yang akan membeli itu siapa?”

“Oh, itu rahasia tuan, kau hanya mengetahui genapnya uang seraturus duapuluh rupiah, dan hanya dikurangi pesenan untuk saya.”

“Oh, kalau perkara pesenan saya tidak dapat memberi, jelas itu namanya rugi kau cari pesenan dari sana saja.”

“Masa orang membeli dimintai persenan?”

“Persenannya berapa kalau seratus duapuluh lima rupiah?”

“Hanya 5 rupiah, perhitungan satu reyal satu uang.”

“Sudahlah, gampang, kalau kau dapat menjualkan seharga pembelian saya 120 rupiah.”

“Kuda kemudian dibawa makelar kerumahnya paneket.”

Md. N. “Paneket itu mas kudanya yang kau puji baik.”

“Memang benar demikian Mas neket, anda lihat pada mukunya, apakah jelek, saya persilahkan untuk mencoba apakah tumpanganya licin, hati anda periksalah apakah kendur, mulutnya coba rasakan apakah berat, kalau perkataan saya tidak benar, silahkan anda marah.”

“Baik, akantetapi mengenai tumpangannya kalau untuk saya agak kekecilan, ukurannya kurang satu dim.”

“Benar, tetapi kalu sudah dinaiki akan kelihatan menakutkan karena cekatan tindakanya dan baik mulutnya.”

“Tetapi terlalu mahal kalau untuk harga duaratus rupiah.”

(Sudah mengambil hati makelar, masih akan mengambil untung tigapuluh rupiah) ”Silahkan anda piker masak-masak perkataan saya tadi, kalau kurang dari harga yang saya tetapkan, ya jangan banyak-banyak.”

“Sudah, tawaran saya sudah tidak dapat naik dari seratus limapuluh rupiah, saya ini sudah paham orang jual beli, bukan hanya sekali ini saja, seperti orang jual beli opium.”

Tersebutlah jual beli kuda sudah selesai, Cina itu baru tahu kalau orang yang membeli kudanya adalah musuh bebuyutannya, paneket bersekongkol. Kemudian Cina itu berfikir, lebih baik membujuk-bujuk makelar, agar kelihatanya seperti sepakat dengan paneket. Makelar kemudian diundang dan diajak bercakap-cakap. Sekarang kau saya undang, akan saya mintai untuk menjadi mata-mata Tinom, dan mendapatkan jatah candu setiap hari, juga mendapatkan gaji setiap bulan, kerjanya hanya mengisap-isap orang yang berani memusuhi di Ngepakan, kalau memperoleh hasil akan mendapatkan hadiah.

Sifat dari orang yang minum madat kalau akan diberi apa-apa ia sangat mendambakan, lupa akan orang yang sudah berbuat baik kepadanya, mwekipun kepada shabat karib juga lupa, pikirnya, saya ini sangat beruntung, dipilih jadi mata-mata dan minum madat ada yang menyediakan, setiap bulan mendapat gaji, dan masih dapat pula ditinggal menjadi makelar, maka akan semakin tidak kentara kalau saya ini menjadi mata-mata, dan tidak akan dibenci orang, jawabnya.

Dibalas: saya juga mau asalkan mendapat surat perjanjian yang dimuat dalam surat yang bersal dari ngepakan pusat.

Alkisah, makelar tadi mata-mata gelap dan mendapatkan surat perjanjian dari Ngepakan pusat, setiap hari mendapatkan jatah candu satu tadah dan ia sudah menerima gaji satu bulan, kan tetapi belum mendapatkan hasil apa-apa, hatinya menjadi riau sendiri, takut kalau dipecat, pikirnya, Mas neket saja yang akan saya jadikan umpan, dia adalah sekongkol besar, kalau saya berhasil sekali ini, dan agak besar, pastilah akan kekal kedudukannya sebagai mata-mata, makan tanpa bekerja selama-lamanyakemudian mereka pergi kerumah paneket. Karena sudah berhubungan baik, ia disenangi, mereka lalu minum-minuman madat di pendapa, dan banyak yang sibicarakannya.

Makelar: anu mas neket, saya dating ke kota  ditugasi  oleh saudara untuk mencari barang, dan saya menyanggupinya, saya dapat mencarikan barang itu kalau banyak dan kalau uang dapat saya terima lebih dahulu, apakah hal itu sudah kau pikirkan?

Perkara yang demikian itu tidak mudah, dan lagi apabila tanggungan-tanggungan saya tidak mau.

Bagai mana kehendakmu? Kalau perlu dapat saya rundingkan.

Kalau saya mau mengeluarkan barang tentu tidak kurang dari sepuluh kati, dan satu katinya hanya saya jual enampuluh rupiah, jadi semua uangnya enam ratus rupiah, uangnya harus lebih dahulu, baru barangnya menyusul, atau barang diterimakan uang dibayar.

Kalau hanya satu atau dua harganya berapa mas neke?t

Itu sudah jatuh di agen dan dijual tujuh puluh lima rupiah tetapi kalau saya tidak dapat menjual satu dua.

Coba saya rundingkan dahulu, kalau berhasil saya dating kemari dan saya sudah membawa uangnya..

Makelar kemudian pergi ke Tinom dn berjumpa denga Cina Ngepakan, bercerita kalau ia mendapatkan hasil, tetapi harus dengan umpan uanga enam ratus rupiah, dan nanti pukul sembilan malam disuruh menerima uang dari paneket, setelah orang yang membawa barang dating. Ketia pukul tujuh sore, makelar telah dating kerumah paneket dan sudah membawa uang kertas enam ratus rupiah yang diperlihatkan kepada paneket, kemudian mereka minum-minuman madat, paneket hilang kewaspadaannya, ketika pukul sembilan dating dua orang polisi upahan, yang berpura-pura akan menerima barang, paneket lalu mengambil barang dari tempat persembunyiannya sepuluh kati, dan diserahkan kepada makelar, dan makelar ganti menyerahkan uang enam ratus rupiah yang berupa uang kertas, dan ketika sedang saling serah terima, polisi dengan bawahanya dating dengan serentak dan pak paneket ditangkap dan dibawa ke kantor polisi Klathen, dan dimasukan ke penjara, perkara itu diurus di kota tempat paneket ditahan, dipenjarakan selama satu tahun, paneket dikenakan hukuman kerja paksa tanpa dirantai selama satu tahun, juga dikenakan denda seribu rupiah, serta dipecat dari kedudukanya. Paneket yang mulanya kaya raya dan besar pendapatanya ketika menjadi sengkongkol, sekarang mendadak menjadi melarat dan menanggung sengsara. Seandainya paneket tidak mempunyai kesenangan minum madat, pasti tidak bakal timbul hasrat untuk menjadi sengkongkol, yang menjadikan celakanya, dan sampai melepaskan pangkatnya, karena mempunyai kesenangan minum madat.

  1. SAKIT LUMPUH KARENE MINUM MADAT

Ceitanya orang kaya yang mempunyai anak yang kurang ajar, menghabi-habiskan kekayaan ayahnya,

Saudagar kaya di lawiyan (Surakarta) itu bernama saudagar Semel, mempunyai seorang anak lai-laki, bernama Bagus Surasa, yang dimanjakan oleh ayah ibunya, ia dibiarkan sesuai sekehendak hatinya, tidak mau mempelajari kepandaian, kalau dilatih keras kepala, dan akhirnya terlanjur sampai jejaka, ia semakin kurang ajar dan tidak ada yang ditakuti, selalu menghabiskan barang-barang, ayah ibunya sedih sebab diganggu oleh anak kesayangannya, dan akhirnya jatuh sakit yang sangat menyedihkan. Bagus Sura sa dalam hatinya merasa senang kalau ayah ibunya segera meninggal. Seperti tidak ada kelakuan jelek, senang ayah ibunya meninggal. Tuhan ingin membuat suatu peristiwa, ayah ibunya Bagus Surasa sakitnya sudah tidak apat disembuhkan lagi dengan obat, akhirnya meninggal secara bergiliran. Bagus Surasa menggantiukan kesaudagaran ayahnya, tetapi tidak disebut saudagar Semel, melainkan saudagar Ber.

Saudagar Ber ketika ayahnya hidup disuruh menikah tidak mau, dan skerang mempunyai keinginan untuk menikahg, yang disenangib adalah tandak, dan juga tidak kurang orang yang menyertainya, senang berpesta pora makan –minum, senang berkelahi, karena dapat main tangan (bersilat)dengan dibantu oleh teman anak-anak kurang ajar, ia sangat dihormati, tingkahnya semakin kelewatan, ia tidak mengetahuia kalau orang-orang pada mengalah.

Kesaudagarannya kemudian dihentikan, ia tidak bekerja lagi, tetapi mementingkan kesenangan, akhirnya jatuh sakit perempuan, lumpuh tidak dapat berjalan, ketularan istrinya tandak itu, istrinya kemudian dicerai, tetapi sudah terlambat, ia sudah terlanjur sakit, walaupun diobati apa-apa sudah tidak bisa sembuh, sakitnya tidak dapat diobati, ia mengerang siang malam, sakinya hany dapat diringankan dengan minum madat, semakin banyak semakin enteng sakitnya, dan dengan sendirinya cepat sekali ketagihan, siang malam hanya berada di tempat tidur dengan memakan yang lezat-lezat, walaupun kekayaanya dapat dibuat untuk menahan sakitnya itu, lama kelamaan juga akan cepat habis. Untung saudagar Ber itu cepat meninggal, tidak panjang umurnya, seandaimya tidak sepat meninggal, pasti menderita sengsara.

  1. PEMINUM MADAT MEMUKULI ANAK ISTRI

“Nak (anaknya) saya belikan candu satu umpling, ini uangnya sepuluh sen, cepat saja, saya sudah ketagihan.”

“Dimana pak? (anak berumur sepuluh tahun).”

“Pergilah ke Cayudan saja, dekar, jangan ke Singasaren.”

Anak itu kemudian berangkat, uang sepuluh sen digenggamnya, dan celaka ketika diperjalanan uang spuluh sen itu jatuh tidak tersa, karena asyik melihat apa-apa di jalan, ketika sadar akan keperluannya untuk membeli candu, dirasakan genggamanya telah kosong, karena kagetnya kemudian ia menangis sambil mencari uang sepuluh sen yang jatuh, tetapi tidak diketemukan, pulang pergi menyusuri jalan yang batu di lewati, akan segera pulang ia takut kalau dimarahi ayahnya.

Ayahnya sangat mengharap-harapkan kedatangan anakanya, jika sudah ketagihan, ingusnya mengalir dan bersin tiada henti-hentinya (begitulah cirri orang ketagihan madat), tidak berapa lama anaknya kelihatan pulang dan segera ditanyai,  “mana untaianya,lama benar, tadi mengerjakan apa saja?”

Jawab anaknya, “uangnya hilang dijalan, saya cari tidak ketemu.”

Tidak terlukiskan kemarahan Ayahnya, katanya, “anak kena murka Tuhan, anaknya orang gila (hingga lupa akan perkataannya sendiri), anak ditempeleng sekuat tenaga hingga sempoyongan, tiba-tiba istrinya datang, dan melihat anaknya ditempeleng, berteriak-teriak menaruh belas kasihan, katanya kepada suaminya,” apakah kamu gila memukuli anakdengan tidak memakai perhitungan, sampai sempoyongan?” suaminya semakin geram, istrinya kemudian dipukul sekuatnya, penglihatanya sampai tersa gelap,dengantangngkas kemudian ia mendekap suaminya dan sambil berkata, teruskan orang gila, kalau tidak jadi mampus kau, jangan kau sebut aku. Suaminya menyeringai, sambil mengeluh menyayat hati, sudah sudah Bu, lepaskan, saya sudah jera, kemudian dilepaskan, dan ditanyai, ini tadi kerasukan apa jadi seperti orang gila, tega memukuli anak istri.

:Habis keterlaluan, anak sudah besar kurang ajar, disuruh beli candu uangnya dihilangkan.”

“beli candu itu berapa?”

Sepuluh sen.”

“Hanya karena sepuluh sen, kepala anaknya, ditambah kepala istrinya dijadikan pukulan, rahasianya kau ketagihan, ini sehari jatahmu sehari dua umpling tadi saya belikan, makanlah hingga muntah.”

Mana, sebab akau ketahian sekali, kemudian mempersiapkan diri di tempat tidur, lalu mulai meminum madat.

Demikian sifatnya peminum madat, jika sedang marah, semuanya itu akan hilang seketika itu juga kalau ditukar dengan candu.

2 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: