PEMBAURAN PELBAGAI BAHASA DALAM SUATU WILAYAH (MONOLINGUAL, BILINGUAL, MULTILINGUAL)

PEMBAURAN PELBAGAI BAHASA DALAM SUATU WILAYAH

(MONOLINGUAL, BILINGUAL, MULTILINGUAL)


A. Latar Belakang

Bahasa meupakan alat komunikasi yang digunakan manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya. Dengan menguasai bahasa maka manusia dapat mengetahui isi dunia melalui ilmu dan pengetahuan-pengetahuan yang baru dan belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Sebagai alat komunikasi dan interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia, bahasa dapat dikaji secara internal maupun secara eksternal. Secara internal artinya pengkajian tersebut dilakukan terhadap unsur intern bahasa saja seperti, struktur fonologis, morfologis, dan sintaksisnya saja. Sedangkan kajian secara eksternal berarti kajian tersebut dilakukan terhadap hal-hal atau faktor-faktor di luar bahasa, tetapi berkaitan dengan pemakai bahasa itu sendiri, masyarakat tutur ataupun lingkungannya.

Pengkajian bahasa secara eksternal juga mengkaji bagaimana pembauran pelbagai bahasa dalam suatu wilayah dan penguasaan bahasa kedua, ketiga bahakan selanjutnya oleh penutur atau pengguna bahasa. Seseorang yang menguasai satu bahasa disebut monolingual, menguasai dua bahasa biasa disebut bilingual dan menguasai bahasa lebih dari dua disebut multilingual (Chaer, 1995:112).

Sebagai seorang yang terlibat dengan penggunaan dua bahasa dan juga dengan dua budaya, seorang dwibahsawan tentu tidak terlepas dari akibat-akibat penggunaan dua bahasa. Salah satu akibatnya adalah tumpang tindih antara dua sistem bahasa yang dipakai atau digunakannya dari unsur bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Ini dapat terjadi karena kurangnya penguasaan bahasa kedua oleh penutur atau bahkan karena kebiasaan. Percampuran unsur bahasa ini disebut alih kode (code switching) dan campur kode (code mixing).

Karena semakin berbaurnya budaya di era globalisasi ini, alih kode dan campur kode sering terjadi baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam sebuah wacana tulis. Hal ini yang mendasari penulis untuk mengangkat masalah ini sebagai bahan untuk dikaji.

B. Pengertian Bahasa

Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian. Banyak  pakar yang membuat definisi tentang bahasa dengan pertama-tama menonjolkan segi fungsinya. Bahasa adalah sistem lambang bunyi arbiter yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri (Kridalaksana, 1983:  ).

Masalah lain yang berkenan dengan pengertian bahasa adalah sebuah tuturan disebut bahasa, yang berbeda dengan bahasa lainnya; bilamana hanya dianggap sebagai varian dari suatu bahasa. Dua buah tuturan bisa disebut sebagai dua bahasa yang berbeda berdasarkan dua buah patokan, yaitu patokan linguistik dan patokan politis. Secara linguistik dua buah tuturan dianggap sebagai dua buah bahasa yang berbeda, kalau anggota-anggota dari dua masyarakat tuturan itu tidak saling mengerti. Karena rumitnya menentukan suatu parole bahasa atau bukan, hanya dialek saja dari bahasa yang lain, maka hingga kini belum pernah ada angka yang pasti berapa jumlah bahasa yang ada di dunia ini (lihat Crystal 1988:284).

C. Hakikat Bahasa

Kridaleksana yang dikutip pada sub bab A didapatkan beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa. Sifat atau ciri itu antara lain: (1) bahasa itu sebuah sistem, (2) berwujud lambang, (3) berupa bunyi, (4) bersifat arbiter, (5) bermakna, (6) bersifat konvensional, (7) bersifat unik, (8) bersifat universal (9) bersifat produktif, (10) bervariasi, (11) bersifat dinamis, (12) alat interaksi sosial.

Salah satu dari hakikat bahasa tersebut adalah bahsa bersifat universal dan berfariasi. Bahasa bersifat universal. Artinya ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri-ciri universal merupakan unsur bahasa yang paling umum. Bahasa itu berupa ujaran, ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan. Bahasa Indonesia, mempunyai 6 vokal an 22 buah konsonan, bahasa Arab mempunyai 3 buah vokal pendek dan 3 buah vokal panjang serta 28 buah konsonan (Al-Khuli 1982:321). Bahasa Inggris memiliki 16 buah vokal (termasuk diftong) dan 24 buah konsonan (Al-Khuli 1982:320). Bukti lain dari keuniversalan bahasa adalah bahwa setiap bahasa mempunyai satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah satuan yang namanya kata, frase, klausa, kalimatdan wacana.

Yang termasuk dalam satu masuarakat bahasa adalah mereka yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Masyarakat bahasa Indonesia adalah semua orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia. Variasi bahasa ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idiolek, dialek dan ragam. Misalnya Hamka, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamingway atau mark Twain.

Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Misalnya bahasa jawa dialek Banyumas, bahasa Jawa dialek Tegal, bahasa Jawa dialek Surabaya. Variasi bahasa berdasarkan tempat ini lazim disebut dengan nama dialek regional, dialek areal,atau dialek geografi. Variasi bahasa yang digunakan pada masa tertentu, misalnya bahasa Indonesia zaman Balai Pustaka, Orede Baru, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, disebut dialek temporal atau juga kronolek. Variasi bahasa yang digunakan sekelompok anggota masyarakat dengan status sosial tertentu dialek sosial atau sosiolek.

Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu. Situasi formal digunakan ragam bahasa yang disebut ragam baku atau ragam standar, situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar. Sarana yang digunakan ragam lisan dan ragam tulisan.

D. Pengertian Kode

Istilah kode dipakai untuk menyebut salah satu varian di dalam hierarki kebahasaan, sehingga selain kode yang mengacu kepada bahasa (seperti bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Indonesia), juga mengacu kepada variasi bahasa, seperti varian regional (bahasa Jawa dialek Banyuwas, Jogja-Solo, Surabaya, Banten), juga varian kelas sosial disebut dialek sosial atau sosiolek (bahasa Jawa halus dan kasar), varian ragam dan gaya dirangkum dalam laras bahasa (gaya sopan, gaya hormat, atau gaya santai), dan varian kegunaan atau register (bahasa pidato, bahasa doa, dan bahasa lawak) Kenyataan seperti di atas menunjukkan bahwa hierarki kebahasaan dimulai dari bahasa/language pada level paling atas disusul dengan kode yang terdiri atas varian, ragam, gaya, dan register.

E. Pengertian Alih Kode

Dalam keadaan bilingual, ada kalanya penutur mengganti unsur-unsur bahasa atau tingkat tutur dalam pembicaraan yang dilakukannya, hal ini tergantung pada konteks dan situasi berbahasa tersebut. Misalnya, pada waktu si A berbahasa X dengan si B, datang si C yang tidak dapat berbahasa X memasuki situasi berbahasa itu, maka si A dan B beralih memakai bahasa yang dimengerti oleh si C. Kejadian semacam ini kita sebut alih kode. Appel dalam Chaer (1995 :141) mendeskripsika Alih kode sebagai dejala peralihan pemkaian bahasa karena berubahnya situasi.

Berbeda dengan Appel yang mengatakan alih kode itu terjadi antar bahasa maka Hymes dalam Chaer (1995 :141) mengatakan alih kode bukan hanya terjadi antar bahasa tetapi juga terjadi anatara ragam-ragam atau gaya-gaya bahasa yang terdapat dalam suatu bahasa.

Nababan (1991: 31) menyatakan bahwa konsep alih kode ini mencakup juga kejadian pada waktu kita beralih dari satu ragam bahasa yang satu, misalnya ragam formal ke ragam lain, misalnya ragam akrab; atau dari dialek satu ke dialek yang lain; atau dari tingkat tutur tinggi, misalnya kromo inggil (bahasa jawa) ke tutur yang lebih rendah, misalnya, bahasa ngoko, dan sebagainya. Kridalaksana (1982: 7) menegaskan bahwa penggunaan variasi bahasa lain untuk menyesuaikan diri dengan peran atau situasi lain, atau karena adanya partisipasi lain disebut alih kode.

Hymes (1964) mengemukakan faktor-faktor dalam suatu interaksi pembicaraan yang dapat mempengaruhi penetapan makna, yaitu:

Siapa pembicara atau bagaimana pribadi pembicara ?

Di mana atau kapan pembicaraan itu berlangsung ?

Apa modus yang digunakan ?

Apa topik atau subtopik yang dibicarakan ?

Apa fungsi dan tujuan pembicaraan ?

Apa ragam bahasa dan tingkat tutur yang digunakan ?

Dari beberapa pendapat ahli di atas jelas bahwa alih kode dapat terjadi pada masyarakat tutur yang bilingual, multilingual atau bahkan pada masyarakat tutur monolingual. Dalam masya rakat tutur mono lingual alih kode terjadi pada tingkat tutur dalam bahasa tersebut, misalya dari bahasa jawa kromo (inggil) ke bahasa Jawa ngoko ataupun sebaliknya.

F. Pengertian Campur Kode

Kridalaksana (1982; 32) memberikan batasan campur kode atau interferensi sebagai penggunaan satuan bahasa dari suatu bahasa ke bahasa lain untuk memperluas gaya bahasa atau ragam bahasa; termasuk di dalamnya pemakaian kata, klausa, idiom, sapaan, dan sebagainya.

Nababan (1989:32) menegaskan bahwa suatu keadaan berbahasa menjadi lain bilamana orang mencampurkan dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran bahasa itu. Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur dan/atau kebiasaanya yang dituruti. Tindak bahasa yang demikian disebut campur kode. Dalam situasi berbahasa yang formal, jarang terdapat campur kode. Ciri yang menonjol dari campur kode ini adalah kesantaian atau situasi informal. Kalau terdpat campur kode dalam keadaan demikian, hal ini disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang dipakai itu, sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa lain (bahasa asing).

Thelander dalam Chaer (1995 : 152) Bila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode. Sedangkan apabila dalam sautu peristiwa tutur, klausa-klausa dan frase-farse yang digunakan terdiri daru klausa dan frase campuran danmasing-masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode.

Dengan kata lain campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosial dan tingkat pendidikan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi.

KESIMPULAN

Seseorang yang menguasai satu bahasa disebut monolingual, menguasai dua bahasa biasa disebut bilingual dan menguasai bahasa lebih dari dua disebut multilingual. Sebagai seorang yang menggunakan bahasa lebih dari satu akan mengakibatkan tumpang tindih antara dua sistem bahasa yang dipakai atau digunakannya dari unsur bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Ini dapat terjadi karena kurangnya penguasaan bahasa kedua oleh penutur atau bahkan karena kebiasaan. Percampuran unsur bahasa ini disebut alih kode (code switching) dan campur kode (code mixing).

Alih kode dan campur kode terjadi karena beralihnya topik pembicaraan, lawan bicara, kurangnya penguasaan bahasa kedua oleh pembicara dan tujuan pembicaraan.  Fungsi dan tujuan penggunaan alih kode adalah untuk menegaskan pembicaraan pada lawan bicara. Pada campur kode tidak ada fungsi khusus, hanya agar lebih santai dan lebih akrab dengan lawan bicara, seperti pengunaan bahasa gaul yang diselipkan diantara kalimat.

Sedangkan campur kode terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosial dan tingkat pendidikan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi.

4 responses

  1. Makasih infonya,,,,,,, buat bahan tambahan skripsi

  2. terima kasih ya…. sedikit membuka pikiranku… lagi bumpet banget mau nulis skripsi.. hehehhee kalo ada buku referensi tentang code switching, tlg saya di kirimi email nya ya. thx beraat🙂

  3. sangat membantu. terimakasih😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: