PERBANDINGAN KISAH RORO MENDUT DAN LAILA MAJNUN

PERBANDINGAN KISAH RORO MENDHUT DAN LAILA MAJNUN

Oleh :  Dhidhik Setiabudi


PENDAHULUAN

Dalam khazanah kesusastraan bangsa-bangsa di dunia ditemukan begitu banyak karya dalam berbagai genre yang menunjukkan kesamaan-kesamaan. Kadang-kadang, kesamaan itu amat mengagetkan karena ternyata bukan saja menyangkut unsur-unsur tertentu di dalam teks, melainkan juga wujud teks secara keseluruhan. Seperti halnya kisah Oedipus (Yunani) dan Sangkuriang-Dayang Sumbi (Sunda), pada novel Madame Bovary karya Gustave Flaubert (Perancis) dan Belenggu karya Armijn Pane, atau pada novel pendek Qindil Umm Hasyim karya Yahya Hakki (Mesir) dan Song of Lawino & Song of Ocol karya Okot p’Bitek (Uganda).

Begitu banyak karya sastra yang pernah ditulis mengenai cinta. Sejak pertama kali manusia bisa menuangkan pikiran-pikiran dan perasaannya ke dalam lembaran-lembaran kertas, para pujangga di seluruh penjuru dunia telah mengukir syair-syair pujian mengenai kebahagiaan dan kesedihan akibat cinta. Di antara karya-karya tersebut, tentunya yang paling populer di seluruh dunia ialah drama Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Sekalipun dianggap paling populer di dunia, Romeo dan Juliet bukanlah satu-satunya kisah cinta yang dramatis; dalam kesusastraan Arab-Persia pun terdapat kisah serupa: Laila Majnun, syair gubahan Syaikh Nizami Ganjavi yang didasarkan pada legenda masyarakat Badui di jazirah Arab. Tidak terkecuali, di Pulau Jawa pun ada kisah tentang Rara Mendut dan Pranacitra.

Pada kesempatan kali ini akan dibahas perbandingan kisah Roro Mendhut dalam Novel yang ditulis oleh Mangunwijaya dengan syair Laila Majnun gubahan Nizami. Dalam hal ini dipilih kisah Roro mendhut karena merupakan kisah yang berasal dari tanah Jawa sebagai objek pembelajaran yang sedqang dikaji.


PEMBAHASAN

Dalam khazanah kesusastraan bangsa-bangsa di dunia ditemukan begitu banyak karya dalam berbagai genre yang menunjukkan kesamaan-kesamaan. Kadang-kadang, kesamaan itu amat mengagetkan karena ternyata bukan saja menyangkut unsur-unsur tertentu di dalam teks, melainkan juga wujud teks secara keseluruhan. Untuk yang pertama, kita tentunya akan teringat pada kisah Oedipus (Yunani) dan Sangkuriang-Dayang Sumbi (Sunda), pada novel Madame Bovary karya Gustave Flaubert (Perancis) dan Belenggu karya Armijn Pane. Kita jua menemukan kemiripan kisah dalam cerita-cerita silat Jawa karangan S.H. Mintaredja dengan cerita silat Tiongkok karangan Jin Yong, atau puisi-puisi haiku Jepang dengan puisi tradisional Bugis, elang.

Banyak peneliti dan pemerhati sastra yang memberikan perhatian khusus terhadap gejala literer semacam ini. Dari telaah-telaah bandingan yang berhasil dilakukan, paling tidak muncul tiga teori yang bersangkut paut dengan gejala tersebut. Teori pertama mengatakan bahwa kesamaan dimungkinkan oleh adanya proses migrasi, teori kedua oleh adanya pengaruh-memengaruhi, dan teori ketiga tidak bersinggungan dengan yang pertama dan kedua, tetapi karena sifat “kebetulan” semata. Untuk teori yang ketiga, dijelaskan bahwa manusia, di mana pun ia berada, pada hakikatnya senantiasa menghadapi persoalan kemanusiaan yang sama dalam hidupnya-pencarian Tuhan, makna cinta, keadilan, kematian, dan sebagainya. Jadi, ketika merasa perlu untuk “mengabadikan” persoalan yang dianggap genting itu, boleh jadi ia akan mengekspresikannya dalam wujud yang lebih kurang sama. Karena itu, misalnya, tidaklah mengherankan bila pengagungan manusia atas cinta di berbagai tempat, zaman, dan kebudayaan yang berjauhan kemudian melahirkan kisah dramatik Romeo dan Juliet (Inggris/Eropa), Laila Majnun (Arab-Persia), Sam-pek Eng-tay (Tiongkok), dan Roro Mendut-Pronocitro (Jawa) yang, jika dilihat dari banyak segi, memperlihatkan begitu banyak kesamaan. Hingga kini pun, kiranya masih terlampau sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa kisah-kisah itu berasal dari induk yang sama atau, paling tidak, wujud karya yang satu dipengaruhi oleh karya lainnya.

Pendekatan sastra bandingan didefinisikan sebagai “kajian sastra di luar batas-batas sebuah negara, dewasa ini membuat studi sastra maju beberapa langkah. Dikatakan demikian karena telaah sastra bandingan diam-diam telah menumbuhkan kesadaran tentang betapa pentingnya memetakan hubungan kebudayaan di antara bangsa-bangsa dan negara di dunia yang dalam hal ini terepresentasikan dalam karya sastra. Terlepas dari segala kerumitannya, telaah sastra bandingan yang bersifat diakronis. Suka atau tidak sukapun telah mementahkan pandangan atas kemumpunian dan “keilmiahan” telaah sastra sinkronis yang berakar pada konsep linguistik struktural-nya Ferdinand de Saussure. (Remak, 2005: 2 dalam Djoko Damono)

Begitu banyak karya sastra yang pernah ditulis mengenai cinta. Sejak pertama kali manusia bisa menuangkan pikiran-pikiran dan perasaannya ke dalam lembaran-lembaran kertas, para pujangga di seluruh penjuru dunia telah mengukir syair-syair pujian mengenai kebahagiaan dan kesedihan akibat cinta. Di antara karya-karya tersebut, tentunya yang paling populer di seluruh dunia ialah drama Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Sekalipun dianggap paling populer di dunia, Romeo dan Juliet bukanlah satu-satunya kisah cinta yang dramatis; dalam kesusastraan Arab-Persia pun terdapat kisah serupa: Laila Majnun, syair gubahan Syaikh Nizami Ganjavi yang didasarkan pada legenda masyarakat Badui di jazirah Arab. Selama lebih dari seribu tahun beragam versi dari kisah tragis yang kehadirannya mendahului Romeo dan Juliet ini muncul dalam bentuk prosa, puisi, dan lagu dalam hampir semua bahasa di negara-negara Islam Timur Dekat.  (Turner, 2007: 7).

Itulah sebabnya, selain ada Romeo dan Juliet di Eropa serta Laila Majnun di Arab-Persia, tidak terkecuali, di Pulau Jawa pun ada kisah tentang Rara Mendut dan Pranacitra. Seperti halnya Laila Majnun, kisah tentang kemuliaan cinta, kesetiaan, dan pengorbanan yang didasarkan pada mitos yang sejak berabad-abad lalu beredar dalam masyarakat Jawa ini telah melahirkan beberapa versi serta ditransformasikan ke dalam cabang kesenian lain-Langendriya, ketoprak, tari kontemporer, film, bahkan sinetron. Dalam wujud novel, misalnya, cerita tentang Roro Mendut-Pronocitro yang amat populer di Indonesia dan acapkali disejajarkan dengan Romeo dan Juliet sekurang-kurangnya telah melahirkan dua versi dari dua pengarang dengan latar belakang kultur berbeda-Ajip Rosidi (Sunda) dan Y.B. Mangunwijaya (Jawa).

Kisah tentang Roro Mendut-Pronocitro mungkin hanya dikenal dalam wilayah geografis yang lebih terbatas bila dibandingkan dengan Laila Majnun, misalnya. Meskipun demikian, menelaah dan membandingkan keduanya tetap saja penting. Untuk itu, dalam telaah sederhana ini akan digunakan teks novel Roro Mendut karya Mangunwijaya dan syair Laila Majnun gubahan Nizami sebagai objek bandingan. Paling tidak, ada dua segi menarik yang bisa dilihat dalam kedua karya penulis ini. Pertama, sebagaimana telah disebutkan, Laila Majnun dan Roro Mendut bukanlah karya “asli” karena keduanya berangkat dari cerita rakyat terkenal milik masyarakat pendukungnya; kedua, sebagai penulis, Mangunwijaya dan Nizami juga sama-sama mempunyai latar belakang kehidupan spiritual yang khusus; Mangunwijaya seorang pastor dan Nizami seorang sufi.

Roro Mendhut karya Mangunwijaya pertama kali dipublikasikan sebagai cerita bersambung pada harian Kompas (1982). Setahun sesudah pemuatannya selesai (1983), barulah kisah ini diterbitkan sebagai novel oleh PT Gramedia, Jakarta. Novel Roro Mendut ditulis berdasarkan cerita rakyat yang telah berabad-abad dikenal oleh masyarakat Jawa. Biarpun sebagai orang Jawa Mangunwijaya memiliki pengetahuan yang luas tentang mitos Roro Mendut, dalam proses penulisan novel ini ia juga memanfaatkan hasil studinya yang intens terhadap Babad Tanah Jawi, dokumen-dokumen duta besar VOC, Rijckloff van Goens, dan data-data sejarah lainnya. Hal ini sengaja dilakukan terutama untuk “mempertanggungjawabkan” segi-segi historis novel yang pernah memperoleh penghargaan ini.

Pada kebanyakan masyarakat Jawa sudah menjadi sebuah “keniscayaan” bahwa kisah hidup Roro Mendut, yang diyakini pernah ada dan hidup pada masa kekuasaan Sultan Agung di Mataram (abad ke-17), adalah kisah cinta yang tragis di mana seorang perempuan, akibat kekuasaan yang menindasnya, akhirnya harus membuktikan cinta dan kesetiaannya kepada sang lelaki pujaan lewat ritual bunuh diri.

Sementara itu, Syair Laila Majnun ditulis Syaikh Nizami pada tahun 1188 M. Syair ini ditulis  berdasarkan cerita rakyat Arab-Persia yang telah ada sejak lima ratus tahun sebelumnya. Dalam masyarakat Arab-Persia ketika itu, Majnun acapkali dihubungkan dengan tokoh yang benar-benar pernah ada, yaitu Qays bin al-Mulawwah, yang mungkin hidup pada paruh kedua abad ke-7 di padang pasir Najd di semenanjung Arab. Pada masa Nizami, ada banyak sekali variasi tema mengenai Majnun yang tersebar di seluruh daerah itu, tetapi yang terkenal tetap saja gubahannya.

Bagi masyarakat Arab dan Persia, Laila Majnun hingga kini masih terus dikenang sebagai sebuah kisah mengenai keabadian cinta. Qais dan Laila adalah sepasang anak muda yang tampan dan cantik yang lahir dalam keluarga terhormat; Qais adalah anak seorang pemimpin kabilah dari Bani Amir dan Laila adalah anak pemuka kabilah yang lain. Kisah cinta Qais dan Laila bermula dari sebuah sekolah. Cinta mereka kemudian kandas oleh adat masyarakat yang pada waktu itu mengharamkan hubungan lelaki dan perempuan secara terbuka.

Syaikh Nizami Ganzavi adalah penyair agung Persia yang hidup pada tahun 1155-1223 M. Selain dikenal sebagai penulis syair Laila Majnun yang termashur, penyair yang dilahirkan di kota Ganje, Azerbaijan, ini juga dikenal sebagai penulis Khusrau dan Syirin. Konon, semenjak masa mudanya, penyair ini telah menempuh jalan sufi.

Syaikh Nizami diketahui menguasai berbagai lmu, seperti matematika, filsafat, hukum, dan kedokteran. Banyak karyanya merupakan pelajaran tersembunyi bagi pemeluk tarekat sufi. Sebagaimana lazimnya terjadi pada para Sufi, yang tertinggal dari Syaikh Nizami adalah ajaran-ajaran sufi yang amat tinggi, yang mengingatkan para penempuh jalan spiritual akan kefanaan hidup di alam semesta.

Karya Syaikh Nizami terkenal karena bahasanya yang halus. Ada cerita menarik yang berhubungan dengan kelahiran syair Laila Majnun gubahannya. Dikisahkan bahwa pada suatu hari di tahun 1188 M datang seorang utusan Raja Kaukasia, Shirvanshah, kepadanya. Dari utusan itu Nizami menerima supucuk surat yang berisi permintaan raja untuk menulis sebuah epik yang didasarkan pada cerita rakyat Arab-Persia, yaitu tentang percintaan Majnun, si penyair yang gila “cinta”, dan Laila, pewaran padang pasir yang kecantikannnya luar biasa.

Pada awalnya Nizani tidak mau menerima tugas itu karena ia merasa tugas itu “tidak menawarkan kebahagiaan kepada siapa pun”. Namun, karena sadar bahwa tugas itu merupakan titah mulia dari seorang raja yang harus dihormati sahayanya, akhirnya lahirlah syair Laila Majnun yang keseluruhannya mencapai 8.000 baris. Syair ini diselesaikannya dalam waktu empat bulan. Sebagaimana dikatakan Turner (2007: 9-8), keberhasilan Nizami dalam menulis Laila Majnun sesungguhnya terletak pada kemampuannya “mempertahankan amosfer Badui dalam kisahnya, sementara pada saat yang bersamaan ia menempatkan kisah itu dalam dunia Persia yang lebih beradab dari masanya, membubuhi kisah itu dengan beragam warna dan perumpamaan dari bahasa asli juga tradisi tulis bangsanya”.

Hampir sama dengan syair Laila Majnun, novel Roro Mendut ditulis Mangunwijaya tiga abad sesudah cerita rakyat itu berkembang dalam masyarakat pendukungnya. Jadi, pada waktu menulis kedua karya tersebut, baik Nizami maupun Manguwijaya, menghadapi situasi yang sama di mana zaman dan kebudayaan ketika mereka menulis karya itu amat berbeda dengan zaman dan kebudayaan ketika cerita babonnya mulai dikenal. Itulah sebabnya, seperti halnya Nizami, pada novel Roro Mendut Mangunwijaya juga memasukkan unsur-unsur tradisi sastra baru dalam model penggunaan bahasa, penggarapan struktur, atau pengayaan gagasan.

Yang berbeda barangkali dalam segi motif menulis. Jika Nizami menulis karyanya semata-mata untuk menunjukkan loyalitasnya kepada sang raja, maka Mangunwijaya menulis Roro Mendut tanpa didesak oleh keinginan siapa pun. Ia menulis novel tersebut atas kesadarannya sendiri yang, boleh jadi, didasari oleh niat ingin  menggugah pikiran sebagian orang Jawa yang masih terlalu terikat pada mitos-mitos. Sebagai seseorang yang dibesarkan dalam tradisi pemikiran Barat yang identik dengan kritisisme, Mangunwijaya dalam novel tersebut mencoba melakukan demitifikasi terhadap tokoh-tokohnya. Misalnya, sosok Roro Mendut yang selama ini oleh masyarakat Jawa telanjur dicitrakan sebagai perempuan yang cantik tiada tara, lembut, tetapi sekaligus bersikap fatalis, dibuatnya menjadi “manusia biasa”. Gambaran kecantikannya yang semula amat fisikal digesernya ke inner beauty; kelembutan dan sikap fatalisnya yang susah berubah dirombaknya menjadi perkasa dan bersemangat perlawanan.

Selain itu, inilah yang menarik, sebagai orang yang juga hidup dalam lingkungan keagamaan yang khusus-gereja, Mangunwijaya mencoba mendekonstruksi wacana yang bertalian dengan  proses kematian sang tokoh utama. Jika dalam mitos orang Jawa kematian Roro Mendut diyakini sebagai akibat bunuh diri, maka dalam novel versinya justru kematian itu disebabkan oleh tindakan yang amat “ksatria”. Dalam pemahaman Mangunwijaya, zaman Mataram adalah zaman Islam. Jadi, berdasarkan logika dan kesadaran religusitasnya, saat itu Roro Mendut tentu sudah menyerap nilai-nilai keislaman, dan salah satu dari nilai itu ialah larangan keras kepada setiap penganutnya untuk mengakhiri hidup secara sia-sia dan terhina-bunuh diri. Karena itu, Roro Mendut pun tidak menancapkan keris yang membunuh Pronocitro ke dadanya sendiri, tetapi menggunakannya untuk melawan Wiroguno yang perkasa. Pada akhirnya, kematian memang menjemputi Roro Mendut, tetapi kematian itu lebih disebabkan oleh sikap dan perlawanannya sendiri.

Demikianlah, dengan kesamaan latar belakang kehidupan religiusitasnya, Nizami dan Mangunwijaya berhasil membangun kisah yang sebelumnya telah ada dalam masyarakat. Dengan perspektif kesufiannya, Nizami berhasil melukiskan wilayah kejiwaan yang berhubungan dengan kompleksitas emosi manusia ketika dihadapkan pada “cinta yang tak mengenal aturan hukum”, cahaya yang dibawa oleh hati yang sedang jatuh cinta, gairah dari rasa kasih sayang, duka akibat perpisahan, kepedihan akibat kesangsian dan kecemburuan, pahitnya cinta yang dikhianati, dan kesedihan yang ditimbulkan oleh kehilangan. Sementara itu, dengan cara berpikir modern tanpa  melupakan pentingnya religiusitas, Mangunwijaya mampu pula menggambarkan agungnya cinta, kesetiaan, dan pengorbanan sekalipun itu harus berhadapan dengan kekuasaan yang menakutkan.


KESIMPULAN

Dilihat dari unsur-unsur kisahannya, syair Laila Majnun dan novel Roro Mendut menampakkan perbedaan yang amat signifikan. Perbedaan ini tentunya dapat dipahami mengingat kedua karya ini ditulis pada zaman yang berlainan-Laila Majnun ditulis pada abad pertengahan, sedangkan Roro Mendut pada abad ke-20. Dalam segi bangun struktur, misalnya, kisah Laila Majnun tidaklah menampilkan kompleksitas yang canggih; plot begitu linear, penokohan cenderung stereotip, dan latar apa adanya. Namun, lain halnya Roro Mendut. Berkat perkembangan konvensi sastra pada zamannya, penggarapan unsur-unsur tersebut jauh lebih kompleks.

Terlepas dari itu semua, kiranya menarik untuk disinggung ihwal konflik yang menggerakkan kedua cerita. Nasib Qais-Laila dan Roro Mendut-Pronocitro memang sama-sama nahas, kedua pasangan tersebut mengalami kematian yang tragis akibat pertaruhan cinta. Namun, jika kematian Qais-Laila dilatarbelakangi oleh konflik mereka dengan adat dalam masyarakat, kematian Roro Mendut-Pronocitro lebih  disebabkan oleh konflik pribadinya dengan Tumenggung Wiroguno yang membawa-bawa politik dan kekuasaan. Karena itu, cara mereka mati pun sungguh berbeda, Qais dan Laila mati semata-mata karena hati mereka yang merana, sedangkan Roro Mendut dan Pronocitro tewas akibat kekejaman orang yang tidak menyukai hubungan cinta di antara keduanya.

Telaah bandingan karya sastra dalam konteks pemahaman kebudayaan lintas bangsa amat penting dewasa ini. Lewat telaah semacam itu, dapat dipahami berbagai aspek kebudayaan setiap bangsa baik yang tersurat maupun tersiratdi dalamnya. Telaah sederhana ini cukup membuktikan hal itu. Memang, mengingat karya sastra yang serupa dengan novel Roro Mendut bukan hanya Laila Majnun, sebetulnya akan lebih baik jika telaah ini melibatkan pula karya lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Sapardi Djoko Damono. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Turner, Colin Paul. 2007. Laila Majnun, “Kata Pengantar”. Bandung: Oase.

http://id.wikipedia.org/wiki/Roro_Mendut, diakses 10 Januari 2009.

http://matadayeuh.wordpress.com, diakses 10 Januari 2009.

http://pendekarjawa.wordpress.com, diakses 10 Januari 2009.

3 responses

  1. perluas lagi dunk??? cz datanya kurang and lo bisa perbanyak lagi analisis cerpenya

    1. Thanks bgt atas sarannya.
      suatu saat pasti akan saya tambah.
      tapi saya kan juga masih belajar makannya harus sedikit demi sediki

  2. cerita zaman dulu sebetulnya maknanya bagus bagus, kenapa buku buku dulu kok tidak ada yang dicetak ulang supaya anak mudah bisa mangambil hikmanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: